Senin, 08 Juni 2015

Kebutuhan Eliminasi


KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
Kebutuhan Fisik Eliminasi


1.    Pendahuluan
       Manusia merupakan salah satu makhluk hidup. Dikatakan sebagai makhluk hidup karena manusia memiliki cirri-ciri diantaranya: dapat bernafas, berkembang biak, tumbuh, beradaptasi, memerlukan makan, dan megeluarkan sisa metabolisme tubuh (eliminasi). Setiap kegiatan yang dilakukan tubuh dikarenakan peranan masing-masing organ.

            Membuang urine dan alvi (eliminasi) merupakan salah satu aktivitas pokok yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Karena apabila eliminasi tidak dilakukan setiap manusia akan menimbulkan berbagai macam gangguan seperti retensi urine, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola eliminasi urine, konstipasi, diare dan kembung. Selain berbagai macam yang telah disebutkan diatas akan menimbulkan dampak pada system organ lainnya seperti: system pencernaan, ekskresi, dll.

2.    Tujuan
                 Mengetahui prinsip pemenuhan kebutuhan eliminasi.
a.   Mengetahui organ-organ yang berperan dalam eliminasi
b.   Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi
c.   Mengetahui gangguan/masalah kebutuhan eliminasi urine
d.  Mengetahui tindakan mengatasi masalah eliminasi urine

KONSEP TEORI
ELIMINASI URINE

1.    Konsep dasar
       Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan sebagai hasil filtrasi dari plasma darah dari glomerolus dan 180 liter darah yang masuk keginjal untuk difiltrasi hanya 1-2 liter saja yang dapat berupa urine, sebagian besr hasil filtrasi akan diserap kembali ditubulus ginjal untuk dimanfaatkan oleh tubuh
2.    Pengertian Eliminasi
Eliminasi adalah proses pembuangan sisia metabolisme tubuh baik berupa urine atau alvi (buang air besar). Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar).
3.    Kebutuhan eliminasi urine
a.   Organ yang berperan dalam Eliminasi Urine
1). Ginjal
Merupakan organ retroperitoneal (di belakang selaput perut) yang terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ginjal berperan sebagi pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh.
2). Kandung kemih (bladder, buli-buli)
                   Merupakan sebuah kantung yang terdiri atas otot halus yang berfungsi sebagai            penampung air seni (urine).
3). Uretra
     Merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar.

b.   Proses Berkemih
   Urine normal adalah pengeluaran cairan yang prosesnya tergantung pada fungsi organ-organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder dan uretra.
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila urinaria berisi ± 250-450 cc (pada orang dewasa) dan 200-250 cc (pada anak-anak). Ginjal memindahkan air dari darah berbentuk urine. Ureter mengalirkan urine ke bladder. Dalam bladder urine ditampung sampai mencapai batas tertentu. Kemudian dikeluarkan melalui uretra.
Komposisi urine :
Air (96%), Larutan (4%),  Larutan Organik: Urea, ammonia, keratin, dan asam urat, Larutan Anorganik: Natrium (sodium), klorida, kalium (potasium), sufat, magnesium, fosfor. Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak.
c.     Faktor yang Memengaruhi Eliminasi Urine
1). Diet dan asupan
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang mem
pengaruhi output urine (jumlah urine). Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. selain itu, minum kopi juga dapat meningkatkan pembentukan urine.
2). Respon keinginan awal untuk berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal u
ntuk berkemih dapat menyebabkan urin banyak tertahan di vesika urinaria, sehingga mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine.
3). Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya fasilitas toilet.
4). Stres psikologis
Meningkatkan stres dapat meningkatkan frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.
5). Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinearia yang baik untuk fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot di dapatkan dengan beraktivitas. Hilangnya tonus otot vesika urinearia
juga dapat menyebabkan.
6). Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat memengaruhi pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih mengalami mengalami kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun kemampuan dalam mengontrol buang air kecil meningkat dengan bertambahnya usia
.
7). Kondisi penyakit
Kondisi penyakit dapat memengaruhi produksi urine, seperti diabetes mellitus.
8). Sosiokultural
Budaya dapat memegaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu.
9). Kebiasaan seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemh di toilet, biasanya mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.
10). Tonus otot
Tonus otot yang berperan penting d
alam membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi sebagai pengontrolan pengeluaran urine.
11). Pembedahan
Pembedahan berefek menurunkan filtrasi glomerulus sebagai dampak dari pemberian obat anestesi sehingga menyebabkan penurunan jumlah produksi urine.
12). Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada terjadinya peningkatan atau penurunan proses perkemihan.
13). Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat memengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus pyelogram (IVP).
d.  Perubahan pola eliminasi urine
1). Frekuensi
          Normal, meningkatnya frekuensi berkemih, karena meningkatnya cairan. Frekuensi tinggi tanpa suatu tekanan intake cairan dapat diakibatkan karena cystitis. Frekuensi tinggi pada orang stress dan orang hamil. Canture / nokturia meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari, tetapi ini tidak akibat meningkatnya intake cairan
2). Urgency
          Adalah perasaan seseorang untuk berkemih. Sering seseorang tergesa-gesa ke toilet takut mengalami inkontinensi jika tidak berkemih. Pada umumnya anak kecil masih buruk kemampuan mengontrol sfingter eksternal.
3). Dysuria
          Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih. Dapat terjadi karena : striktura urethra, infeksi perkemihan, trauma pada kandung kemih dan urethra.
4). Polyuria
          Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, seperti 2.500 ml/hari, tanpa adanya peningkatan intake cairan. Dapat terjadi karena : DM, defisiensi ADH, penyakit ginjal kronik. Tanda-tanda lain adalah : polydipsi, dehidrasi dan hilangnya berat badan.
5). Urinari suppresi
          Adalah berhenti mendadak produksi urine. Secara normnal urine diproduksi oleh ginjal secara terus menerus pada kecepatan 60 – 120 ml/jam (720 – 1440 ml/hari) dewasa. Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urine kurang dari 100 ml/hari disanuria. Produksi urine abnormal dalam jumlah sedikit oleh ginjal disebut oliguria misalnya 100 – 500 ml/hari. Penyebab anuria dan oliguria : penyakit ginjal, kegagalan jantung, luka bakar dan shock.
e.     Gangguan/Masalah-masalah eliminasi urine
1). Retensi
     Adanya penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak sanggupan kandung kemih untuk mengosongkan diri. Menyebabkan distensi kandung kemih. Normal urine berada di kandung kemih 250 – 450 ml. Dalam keadaan distensi, kandung kemih dapat menampung urine sebanyak 3000 – 4000 ml urine.
a). Tanda-tanda klinis retensi
Ø  Ketidaknyamanan daerah pubis.
Ø  Distensi kandung kemih
Ø  Ketidak sanggupan unutk berkemih.
Ø  Sering berkemih dalam kandung kemih yang sedikit (25 – 50 ml)
Ø  Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikelurkan dengan intakenya.
Ø  Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.
b). Penyebab
Ø  Operasi pada daerah abdomen bawah, pelviks, kandung kemih, urethra.
Ø  Pembesaran kelenjar prostat
Ø  Strikture urethra.
Ø  Trauma sumsum tulang belakang.
2). Inkontinensi urine
     Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih. Jika kandung kemih dikosongkan secara total selama inkontinensi disebut inkontinensi komplit. Jika kandung kemih tidak secara total dikosongkan selama inkontinensia disebut inkontinensi sebagian
a). Penyebab Inkontinensi
Ø Proses ketuaan
Ø Pembesaran kelenjar prostat
Ø Spasme kandung kemih
Ø Menurunnya kesadaran
Ø Menggunakan obat narkotik sedative

b). Jenis inkontinensi yang dapat dibedakan:
Ø Total inkontinensi
Adalah kelanjutan dan tidak dapat diprediksikan keluarnya urine. Penyebabnya biasanya adalah injury sfinter eksternal pada laki-laki, injury otot perineal atau adanya fistula antara kandung kemih dan vagina pada wanita dan kongenital atau kelainan neurologis.
Ø Stress inkontinensi
Ketidaksanggupan mengontrol keluarnya urine pada waktu tekanan abdomen meningkat contohnya batuk, tertawa karena ketidaksanggupan sfingter eksternal menutup.
Ø Urge inkontinensi
Terjadi pada waktu kebutuhan berkemih yang baik, tetapi tidak dapat ketoilet tepat pada waktunya. Disebabkan infeksi saluran kemih bagian bawah atau spasme kandung kemih.
Ø Fungisonal inkontinensi
Adalah involunter yang tidak dapat diprediksi keluarnya urine. Biasa didefinisikan sebagai inkontinensi persistens karena secara fisik dan mental mengalami gangguan atau beberapa faktor lingkungan dalam persiapan untuk buang air kecil di kamar mandi.
Ø Refleks inkontinensi
Adalah involunter keluarnya urine yang diprediksi intervalnya ketika ada reaksi volume kandung kemih penuh. Klien tidak dapat merasakan pengosongan kandung kemihnya penuh.
3). Enuresis
Ø  Sering terjadi pada anak-anak
Ø  Umumnya terjadi pada malam hari nocturnal enuresis
Ø  Dapat terjadi satu kali atau lebih dalam semalam.
Penyebab Enuresis
Ø  Kapasitas kandung kemih lebih besar dari normalnya.
Ø  Anak-anak yang tidurnya bersuara dan tanda-tanda dari indikasi dari keinginan berkemih tidak diketahui, yang mengakibatkan terlambatnya bangun tidur untuk kekamar mandi.
Ø  Kandung kemih irritable dan seterusnya tidak dapat menampung urine dalam jumlah besar.
Ø  Suasana emosional yang tidak menyenangkan di rumah (misalnya persaingan dengan saudara kandung, cekcok dengan orang tua). Orang tua yang mempunyai pendapat bahwa anaknya akan mengatasi kebiasaannya tanpa dibantu untuk mendidiknya.
Ø  Infeksi saluran kemih atau perubahan fisik atau neurologi sistem perkemihan.
Ø  Makanan yang banyak mengandung garam dan mineral atau makanan pemedas
Ø  Anak yang takut jalan pada gang gelap untuk kekamar mandi.
f.    Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Urine
1). Pengumpulan Urine untuk Bahan Pemeriksaan
2). Menolong Buang Air Kecil dengan Menggunakan Urineal pispot
a). Pengertian
     Membantu paien yang hendak buang air besar atau buang air kecil (BAK) di atas tempat tidur
b). Tujuan
·         Membantu pasien dalam upaya memenuhi kebutuhan eliminasi urine
·         Mengurangi pergerakan pasien
·         Mengetahui adanya kelainan feses/urine secara langsung
·         Menjaga kebersihan pasien dan alat tenun pasien
c). prosedur kerja terlampir

3). Kateterisasi urine sementara (STRAIGHT) dan menetap (INDWELLING)
a). Pengertian
     Memsukkan slang karet atau plastik melalui uretra dan ke dalam kandung kemih
b). Tujuan
·         Menghilangkan distensi kandung kemih
·         Menatalaksana kandung kemih inkompeten
·         Mendapatkan spesimen urine steril
·         Mengkaji jumlah residu urine, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan
c). Prosedur kerja terlampir
4). Pengelolaan sistem drainage dengan catheter
a). Pengertian
Perawatan slang yang terbuat dari berbagai bahan yang dimasukkan kedalam saluran kemih sampai kandung kemih untuk memungkinkan aliran atau drainage urine
b). Tujuan
·         Memperlancar aliran urine
·         Mencegah terjadinya infeksi
·         Mencegah terjadinya aliran balik/refluks
c). Prosedur kerja terlampir
5). Pelepasan katether
a). Pengertian
Melepas drainage urine pada pasien yang dipasang catether
b). Tujuan
·         Melatih pasien untuk BAK normal tanpa menggunakan kateter
6). Pemasangan kondom kateter
a). Pengertian
Kondom kateter adalah alat drainage urine external/luar yang mudah digunakan dan amam untuk mengalirkan urine pada klien pria
b). Tujuan
·         Mengumpulkan urine dan mengontrol urine inkontinen
·         Mencegah iritasi pada kulit akibat inkontinen
·         Klien dapat melakukan aktifitas fisik tanpa harus merasa malu karena adanya kebocoran urine (ngompol)
7). Irigasi kandung kemih kontinu
a). Pengertian
     Suatu sistem aliran irigasi yang tertutup yang dialirkan ke dalam kandung kemih secara kontinu dengan menggunakan larutan irigasi yang steril pada pasien pascaoperasi pembedahan genitourinarius
b). Tujuan
·         Irigasi kandung kemih kontinu dilakukan untuk mempertahankan potensi kateter uretra. Irigasi ini dipertahankan dengan cara sistem irigasi tertutup. Sistem tertutup menjamin sterilitas irigan dan sistem irigasi
c). Dilakukan pada
     Klien setelah pembedahan genitournaria karena klien ini beresiko mengalami bekuan darah kecil dan fragmen mukus yang dapat menghambat kateter urine.
8). Latihan berkemih
a). Pengertian
Suatu latihan yang dilakukan dalam rangka melatih otot-otot kandung kemih
b). Tujuan
Mengembalikan pola kebiasaan berkemih
c). Prosedur pelaksanaan terlampir
9). Latihan ulang berkemih
a). Pengertian
Suatu kegiatan latihan untuk meningkatkan kekuatan otot kandung kemih
b). Tujuan
Menurunkan frekuensi inkontinentia urine
c). Prosedur pelaksanaan terlampir


10). KEGEL,S EXERCISES
a). Pengertian
Suatu bentuk latihan otot pelvis pada wanita yang bermanfaat memperkuat otot-otot pelvis dan mengurangi terjadinya incontinentia
b). Tujuan
·         Memperkuat  otot-otot panggul
·         Mencegah terjadinya incontinentia stres akibat adanya kelemahan pelvis dan tekanan intraabdomen yang tinggi
·         Mencegah terulangnya episode inkontinentia
c). Prosedur pelaksanaan terlampir

KONSEP TEORI
ELIMINASI ALVI/DEFIKASI
(Kebutuhan eliminasi alvi/Buang air besar )


1.    Konsep dasar eliminasi fekal
       Sistem pencernaan merupakan saluran panjang (± 9 meter) yang terlihat dalam proses mencerna makanan, mulai dari mulut sampai dengan anus. Saluran ini akan menerima makanan dari luar tubuh dan mempersiapkanya untuk diserap serta bercampur dengan enzim dan zat cair melalui proses pencernaan , baik dari cara mengunyah, menelan dan mencampur menjadi zat-zat gizi
2.    Organ yang berperan dalam Eliminasi Alvi/defikasi
Sistem tubuh berperan dalam proses eliminasi alvi (buang air besar) adalah sistem gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar.
3.    Proses Buang Air Besar (Defekasi)
adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat yang menguasai refleks untuk defekasi, yang terletak di medula dan sumsum tulang belakang. Secara umum, terdapat dua macam terdapat dua macam refleks yang membantu proses defekasi yaitu refleks defekasi intrinsic dan refleks defekasi parasimpatis.


4.    Proses defekasi
Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses dan flatus yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus.
5.    Gangguan / Masalah Eliminasi Alvi
a.   Konstipasi
Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga mengalami eliminasi yang jarang atau keras, serta tinja yang keluar jadi terlalu kering dan keras.
b.    Diare
Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair. Diare sering disertai kejang usus, mungkin ada rasa mula dan muntah
c.   Inkontinesia usus
Inkontinesia usus merupakan keadaan individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal, sehingga mengalami proses pengeluaran feses tidak disadari. Hal ini juga disebut sebagai inkontinensia alvi yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sphincter akibat kerusakan sphincter.
d.  Kembung
Kembung merupakan keadaan penuh udara dalam perut karena pengumpulan gas berlebihan dalam lambung atau usus
e.   Hemorroid
Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan di daerah anus yang dapat disebabkan karena konstipasi, peregangan saat defekasi dan lain-lain
f.    Fecal Impaction
Fecal impaction merupakan massa feses karena dilipatan rektum yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi feses yang berkepanjangan. Penyebab fecal impaction adalah asupan kurang, aktivitas kurang, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot.



6.    Faktor yang Memengaruhi Proses Defekasi
a.      Usia
Setiap tahap perkembangan/usia memiliki kemampuan mengontrol proses defekasi yang berbeda.
b.     Diet
Diet, pola atau jenis makanan yang dikonsumsi dapat memengaruhi proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang dikonsumsipun dapat memengaruhinya
.
c.      Asupan cairan
Pemasukan cairan yang kurang dalam tubuh membuat defekasi menjadi keras. Oleh karena itu, proses absopsi air yang kurang menyebabkan kesulitan proses defekasi.
d.     Aktivitas
Aktivitas dapat memengaruhi proses defekasi karena melalui aktivitas tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma dapat membantu kelancaran proses defekasi
e.      Pengobatan
Pengobatan juga dapat memengaruhinya proses defekasi, seperti penggunaan laksantif, atau antasida yang terlalu sering.
f.      Gaya hidup
Kebiasaan atau gaya hidup dapat memengaruhi proses defekasi. Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang memiliki gaya hidup sehat/ kebiasaan melakukan buang air besar di tempat yang bersih atau toilet, etika seseorang tersebut buang air besar di tempat terbuka atau tempat kotor, maka akan mengalami kesulitan dalam proses defekasi.
g.     Penyakit
Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses defekasi, biasanya penyakit-penyakit tersebut berhubungan langsung dengan system pencernaan, seperti gastroenteristis atau penyakit infeksi lainnya
.
h.     Nyeri
Adanya nyeri dapat memengaruhi kemampuan / keinginan untuk defekasi seperti nyeri pada kasus hemorrhoid atau episiotomi
i.       Kerusakan sensoris dan motoris
Kerusakan pada system sensoris dan motoris dapat memengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses penurunan stimulasi sensoris dalam melakukan defekasi.
7.     Tindakan Mengatasi Masalah Eliminasi Alvi (Buang Air Besar)
a.      Melakukan enema (huknah)
1)      Pengertian
Memasukan larutan kedalam rektum dan kolom
2)      Tujuan
·         Meningkatkan defekasi dengan merangsang peristaltik
·         Melunakkan feces yang telah mengeras atau mengosongkan rektum dan kolon bawah untuk prosedur diagnostik atau pembedahan
3)      Jenis huknah
a)      Huknah rendah
b)      Huknah tinggi
c)      Huknah gliserin
Ø Huknah rendah
·         Pengertian
Memasukian cairan melalui anus sampai kekolon desenden
·         Tujuan
o Merangsang peristaltik usus
o  Mengosongkan usus sebagai persiapan tindakan operasi, kolonoskopi.
o  Tindakan pengobatan
Ø Huknah tinggi








Kesimpulan
Kebutuhan eliminasi terdiri dari atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar). Organ yang berperan dalam eliminasi urine adalah: ginjal, kandung kemih dan uretra. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi urine terjadi proses berkemih. Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih). Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine adalah diet, asupan, respon keinginan awal untuk berkemih kebiasaan seseorang dan stress psikologi. Gangguan kebutuhan eliminasi urine adalah retensi urine, inkontinensia urine dan enuresis. Dan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengumpulan urine untuk bahan pemeriksaan, buang air kecil dengan urineal dan melakukan katerisasi. Sedangkan system tubuh yang berperan dalam proses eliminasi alvi atau buang air besar adalah system gastrointestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. Dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi alvi terjadi proses defekasi. Defekasi adalah proses pengosongan usus yang sering disebut buang air besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi alvi antara lain: usia, diet, asupan cairan, aktifitas, gaya hidup dan penyakit. Gangguan eliminasi alvi adalah konstipasi, diare, kembung dan hemorrhoid. Tindakan untuk mengatasinya adalah menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan, membantu pasien buang air besar dengan pispot dan memberikan gliserin.













DAFTAR PUSTAKA

1.      Kusyati,dkk, 2006, Keterampilan dan Prosedur Laboratorium: Jakarta, EGC.

  1. Tarwoto & Wartonah, 2010, Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan,Jakarat: Salemba medika

  1. Potter &Ferry,2005, Fundamental Keperawatan,Jakarta: EGC

4.      Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Eliminasi. Terdapat pada :http://911medical.blogspot.com/2007/06/asuhan-keperawatan-klien-dengan-masalah.html

5.      Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. PenerbitKedokteran EGC: Jakarta.

6.  Harnawatiaj. 2010. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Fekal.Terdapat pada: http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/14/konsep-dasar- pemenuhan-kebutuhan-eliminasi-fecal/Septiawan, Catur E. 2008.

7.      Perubahan Pada Pola Urinarius. Terdapat pada:www.kiva.orgSjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Medikal Bedah. Penerbit Kedokteran EGC: Jakarta.
8.  .

10.  Siregar, c. Trisa , 2004, Kebutuhan Dasar Manusia Eliminasi BAB, Program Studi Ilmu Keprawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Johnson M., Meridean, M., Moorhead, 2000. NANDA, NIC, NOC. PENERBIT:MOSBY


Tidak ada komentar:

Posting Komentar