Senin, 08 Juni 2015

PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN FISIK

1.      Definisi Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik  merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh pasien. Dalam melakukan pemeriksaan fisik dikerjakan dengan hati- hati, menjaga privasi, tidak menyakiti dan kenyamanan pasien tetap terjaga.
Sebelum dilakukan beberapa teknik dasar pemeriksaan fisik, maka yang pertama dikerjakan adalah: Menimbang berat badan, Mengukur tinggi badan dan mengukur vital sign

2.       Teknik Dasar Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan dilakukan pada pasien yang baru pertama kali datang periksa, ini dilakukan dengan lengkap, pada pemeriksaan ulang dilakukan yang perlu saja jadi tidak semua pemeriksaan dilakukan; waktu persalinan untuk penderita yang belum pernah diperiksa dilakukan dengan lengkap bila masih ada waktu dan bagi penderita yang pernah diperiksa dilakukan yang perlu saja.
Adapun cara pemeriksaan yaitu:
a.     Inspeksi
Inspeksi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan menggunakan indra penglihatan untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanpa tertentu dari bagian tubuh atau fungsi tubuh lainnya. Inspeksi digunakan untuk mendeteksi betuk, warna, posisi, ukuran, tumor dan lainya dari tubuh pasien.
Cara Pemeriksaan:
1)      Atur posisi pasien sehingga bagian tubuhnya dapat diamati secara detail, posisi duduk, tidur ataupun berdiri.
2)      Berikan pencahayaan yang cukup.
3)      Bagian tubuh yang akan diperiksa (upayakan pasien sendiri membuka pakainnya), tidak dibuka sekaligus namun dibuka seperlunya untuk pemeriksaan sedangkan bagian lain ditutupi dengan selimut.
4)      Lakukan inspeksi pada area tubuh tertentu untuk ukuran, bentuk, warna, kesimetrisan;  posisi dan abnormalitasnya.
5)      Bandingkan suatu area sisi tubuh dengan bagian tubuh lainnya.
6)      Jangan melakukan inspeksi secara terburu-buru.

b.       Palpasi
      Palpasi merupakan pemeriksaan dengan indra peraba, yaitu tangan untuk menentukan ketahanan, kekenyalan, kekerasan, tekstur dan mobilitas. Palpasi membutuhkan kelembutan dan sensitivitas. Untuk itu hendaknya mengunakan permukaan palmar jari, yang dapat digunakan untuk mengkaji posisi testur konsistensi, bentuk massa dan pulsasi. Pada telapak tangan dan permukaan ulnar tangan lebih sensitive pada getaran. Sedangkan untuk mengkaji temperature, hendaknya menggunakan bagian belakang tangan dan jari. Rasa nyeri tekan dan kelainan dari jaringan atau organ tubuh dapat dirasakan oleh pasien saat dilakukan palpasi. Palpasi juga merupakan tindakan penegasan dari hasil inspeksi disamping untuk menemukan yang tidak terlihat.
Cara Pemeriksaan
1)      Posisi pasien bisa tidur, duduk atau berdiri tergantung bagian mana yang diperiksa dan bagian tubuh yang diperksa harus dibuka.
2)      Pastikan pasien dalam keadaan rileks dengan posisi yang nyaman untuk menghindari ketegangan otot yang dapat mengganggu hasil pemeriksaan.
3)       Kuku jari-jari pemeriksa harus pendek, tangan hangat dan kering
4)      Minta pasien untuk menarik nafas dalam agar meningkatkan relaksasi otot.
5)      Lakukan palpasi dengan sentuhan perlahan-lahan yaitu dengan tekanan ringan dan sebentar-sebentar.
6)      Palpasi daerah yang dicurigai, adanya nyeri tekan menandakan kelainan.
7)      Lakukan palpasi secara hati-hati, apabila dicurigai adanya farkur tulang.
8)      Hindari tekanan yang berlebihan pada pembuluh darah.
9)      Lakukan palpasi ringan atau memeriksa organ/jaringan yang dalamnya kurang dari 1 cm.
10)  Lakukan palpasi agak dalam apabila memeriksa organ atau jaringan dengan kedalaman 1-2,5 cm.
11)  Lakukan palpasi bimanual apabila kedalaman lebih dari 2,5 cm. Yaitu dengan mempergunakan kedua tangan dimana satu tangan direlaksasikan dan diletakkan dibagian bawah organ/ jaringan tubuh, sedangkan tangan lain menekan kearah tangan yang dibawah untuk mendeteksi karakteristik organ atau jaringan.
12)  Rasakan dengan seksama kelainan organ/ jaringan, adanya nodul, tumor bergerak/tidak dengan konsistensi padat/ bersifat kasar atau lembut,ukurannya dan ada tidaknya getaran/ triil, serta rasa nyeri raba/ tekan.
13)  Catatlah hasil pemeriksaan yang didapat.

c.        Perkusi
Perkusi merupakan pemeriksaan dengan melakukan pengetukan yang menggunakan ujung-ujung jari pada bagian tubuh untuk mengetahui ukuran, batasan, konsistensi organ-organ tubuh dan menentukan adanya cairan dalam tubuh. Ada dua cara dalam perkusi yaitu cara langsung dan cara tidaak langsung. Cara langsung dilakukan dengan mengetuk secara langsung menggunakan satu atau dua jari. Sedangkan cara tidak langsung dilakukan dengan menempatkan jari tengah tangan diatas permukaan tubuh dan jari tangan lain, telapak tidak pada permukaan kulit. Setelah mengetuk, jari tangan ditarik kebelakang. Secara umum, hasil perkusi dibagi menjadi tiga macam, diantaranya sonor, Sonor adalah suara yang terdengar pada perkusi paru-paru normal, pekek suara yang terdengar pada perkusi otot dan timpani adalah suara yang terdengar pada abdomen dan  bagian lambung. Selain itu terdapat suara yang terjadi pada diantara suara tersebut, seperti redup dan hipersonor. Redup adalah suara antara sonor dan pekek sedangkan hipersonor adalah antara sonor dan timpani.
      Cara pemeriksaan :
a.       Posisi pasien dapat duduk, tidur, atau berdiri tergantung pada bagian mana yang akan diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa harus dibuka.
b.      Pastikan pasien dalam keadaaan rileks dan posisi yang nyaman untuk mengurangi ketegangan otot yang dapat menggangu hasil perkusi.
c.       Minta pasien menarik nafas dalam agar meningkatkan relaksasi otot .
d.      Kuku jari pemeriksa harus pendek.
e.       Tangan hangat dan kering.
f.       Lakukan perkusi secara seksama dan sistematis yaitu dengan  metode langsung yaitu melakukan perkusi atau pegetokan jari tangan langsung dengan menggunakan satu atau dua ujung jari.
g.      Metode  tidak langsung yaitu:
a)      Jari tengah tangan kiri yang tidak dominan sebagai fleksi meter diletakkan dengan lembut di atas permukaan tubuh, upayakan telapak tangan dan jari-jari lain tidak menempel pada permukaan tubuh.
b)      Ujung jari tengah dari tangan kanan (dominan) sebagai fleksor, untuk memukul/mengetuk persendian distal dari jari tengah tangan kiri.
c)      Pukulan harus cepat, tajam dengan lengan tetap/ tidak bergerak dan bergerak dan pergelangan tangan rilek.
d)     Berikan tenaga pukulan yang sama pada setiap area tubuh.
e)      Bandingkan bunyi frekuensi dengan akurat
h.      Bandingkan atau perhatikan bunyi yang dihasilkan oleh perkusi
a)      Bunyi timpani mempunyai intensitas keras, nada tinggi, waktu agak lama dan kualitas seperti drum (lambung)
b)      Bunyi resonan mempunyai intensitas amat keras, waktu lebih lama, kualitas ledakan(empisema paru)
c)      Bunyi pekak mempunyai intensitas lembut sampai menengah, nada tinggi, waktu lama kualitas seperti petir (hati)
d)     Bunyi kemps mempunyai intensitas lembut, nada tinggi, waktu pendek, kualitas datar (otot)

d.      Auskultasi
Auskultasi merupakan pemeriksaan dengan mendegarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui stetoskop. Hal ini dimaksudkan untuk mendeteksi adanya kelainan dengan cara membandingkan dengan bunyi yang normal. Auskultasi dilakukan di dada untuk mendengar suara nafas dan bila dilakukan di abdomen mendengarkan suara bising usus.

Penilaian pemeriksaan auskultasi meliputi:
  1. Frekuensi yaitu menghitung jumlah getaran permenit
  2. Durasi yaitu lama bunyi yang terdengar
  3. Intensitas bunyi yaitu ukuran kuat/ lemahnya suara.
  4. Kualitas yaitu warna nada/ variasi.
Pemeriksaan harus mengenal berbagai tipe bunyi normal  yang terdengar pada organ yang berbeda sehingga bunyi abnormal dapat terdeteksi dengan sempurna. Untuk mendeteksi suara diperlukan alat yang disebut stetoskup yang berfungsi menghantarkan, memilih, dan mengumpulakan frekwensi suara. Stetoskup terdiri dari beberapa bagian  yaitu bagian kepala, selang karet/plastic dan telinga. Slang plastik stetoskup harus lentur dengan panjang 30-40 cm  dan telinga stetoskup mempunyai sudut binaural dan bagian  ujung mengikuti lekuk dari rongga telinga kepala stetoskop pada waktu digunakan menempel pada kulit pasien. Ada 2 jenis kepala stetoskup yaitu;
a.       Bel stetoskup digunakan untuk bunyi bernada rendah pada tekanan ringan seperti bunyi jantung dan tekenan vaskuler. Bila ditekankan lebih kuat maka nada frekwensi tinggi terdengar lebih kuatmaka nada frekwensi tinggi terdengar lebih keras karena kulit menjadi terenggang, maka cara kerjanya seperti diagframa.
b.      Diagfragma digunakan untuk bunyi bernada lebih tinggi seperti bunyi usus dan paru
Cara pemeriksaan:
1.      Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri tergantung bagianmana yang diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka
2.      Pastikan pasien dalam keadaan rilek dengan posisi yang nyaman  
3.      Pastikan stetoskup sudah terpasang baik dan tidak bocor antara bagian kepala  selang dan telinga
4.      Pasanglah ujung stetoskup bagian telinga ke lubung telinga periksa sesuai arah, ukuran dan lengkungannya .
5.      Hangatkan dulu kepala stetoskup pada telapak tangan  atau mengosokan pada pakaian pemeriksa.
6.      Tempelkan kepala stetoskup pada bagian tubuh pasien yang akan diperiksa dan lakukan pemeriksaan dengan seksama dan sistematis.
7.      Pergunakanlah bel stetoskop untuk mendengarkan bunyi bernada rendah pada tengan ringan yaitu pada bunyi jantung, dan faskuler. Dan gunakan diafragma untuk bunyi yang bernada tnggi seperti bunyi usus dan paru.
8.      Informasikan hasil pemeriksaan dan  catat pada status.

Posisi pemeriksaan
Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal, maka posisi pemeriksaan sangat menentukan. Beberapa posisi pemeriksaan yang umum dilakukan :
1.      Posisi duduk dapat dilakukan di kursi atau tempat tidur. Digunakan untuk pemeriksaan pada kepala, leher, dada, jantung, paru, mamae, extremitas atas.
2.      Posisi supine (terlentang) yaitu posisi berbaring terlentang dengan kepala disangga bantal. Posisi ini untuk pemeriksaan pada kepala, leher, dada depan, paru, mamae, jantung, abdomen, ekstremitas, dan nadi perifir.
3.      Posisi dorsal recumbent yaitu posisi berbaring dengan lutut ditekuk dan kaki menyentuh tempat tidur .
4.      Posisi sims (tidur miring) untuk pemeriksaan rectal dan vagina.
5.      Posisi litotomi yaitu posisi tidur terlentang dengan lutut dalam  keadaan fleksi. Untuk pemeriksaan rectal dan vagina.
6.      Posisi prone (terlungkup), untuk evaluasi sendi pinggul dan punggung.
7.      Posisi knee chest (menungging), untuk pemeriksaan rectal
8.      Posisi berdiri yaitu untuk evaluasi abdonormalitas postural, langkah dan keseimbangan.

Organ-organ yang diperiksa

1. Pemeriksaan kepala
Tujuan
1.      Mengetahui bentuk dan fungsi kepala.
2.      Mengetahui kelainan yang ada di kepala.

2. Pemeriksaan Mata
Tujuan
1)      Mengetahui bentuk dan fungsi mata.
2)      Mengetahui adanya kelainan pada mata.

3.      Pemeriksaan Telinga
  Tujuan
Mengetahui  telinga luar saluran telinga, gendang telinga, dan fungsi pendengaran

4.      Pemeriksaan Hidung
 Tujuan
(1)   Mengetahui bentuk dan fungsi hidung
(2)   Menentukan kesimetrisan struktur dan adanya imflamasi atau insfeksi.

5.      Pemeriksaan Mulut dan Faring
Tujuan
Mengetahui bentuk dan setiap kelainan mulut.



6.      Pemeriksaan Dada dan Paru
Tujuan
1.      Mengetahui bentuk, kesemirtrisan, ekspansi, keadaan kulit didnding dada.
2.      Mengetahui frekuensi, sifat, irama pernafasan.
3.      Mengetahui adanya nyeri tekan, massa, peradangan, taktil fremitus.
4.      Mengetahui keadaan paru, rongga pleura.
5.      Mengetahui batas paru-paru dengan organ lain di sekitarnya.
6.      Mengkaji aliran udara melalui batang trakeobronkial.
7.      Mengetahui adanya sumbatan aliran udara, dll.

7.      Pemeriksaan jantung
Tujuan
1.      Mengetahui ketidaknormalan denyut jantung.
2.      Mengetahui ukuran dan bentuk jantung secara kasar.
3.      Mengetahui bunyi jantung normal atau abnormal.
4.      Mendeteksi gangguan kardiovaskular.

8.      Pemeriksaan payudara dan ketiak
Tujuan
1.      Mengetahui adanya massa atau tidanya ketidakteraturan dalam jaringan payudara.
2.      Mendeteksi awal adanya kankerb payudara.

9.      Pemeriksaan perut (abdomen)
Tujuan
1.      Mengetahui bentuk dan gerakan-gerakan perut
2.      Mendengar suara peristaltic usus.
3.      Meneliti tempat nyeri tekan, organ-organ dalam rongga perut, benjolan dalam perut, dll

10.  Pemeriksaan Genetalia
Tujuan
1.       Melihat dan mengetahui organ-organ yang termasuk dalam genetalia.
2.      Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia, misalnya varises, edema, tumor/benjolan, infeksi, luka/iritasi,pengeluaran cairan/darah, dsb.
3.      Melakukan perawatan genetalia.
4.      Mengetahui  kemajuan proses persalinan pada ibu hamil/ persalinan.

11.  Pemeriksaan Rektum dan Anus
Tujuan :
1.      Mengetahui kondisi anus dan rektum
2.      Menetukan adanya massa atau bentuk tidak teratur dari dinding rektal.
3.      Mengetahui integritas spingter anal eksternal.
4.      Memeriksa kanker rektal, dll.

12.  Pemeriksaan Sistem Muskuloskeletal
Tujuan :
1.      Memperooleh data dasar tentang otot, tulang dan persendian.
2.      Mengetahui adanya mobilitas, kekuatan atau adanya gangguan pada bagian-bagian tertentu.

13.  Pemeriksaan Sistem Neurologi
Tujuan :
1.      Mengetahui integritas sistem persarafan yang meliputi fungsi saraf kranial, fungsi sensorik, fungsi motorik, dan refleks.


5.      Rangkuman

Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh pasien. Pemeriksaan dilakukan pada pasien yang baru pertama kali datang periksa, ini dilakukan dengan lengkap, pada pemeriksaan ulang dilakukan yang perlu saja jadi tidak semua pemeriksaan dilakukan.Teknik pemeriksaan fisik terdiri dari inspeksi, palpasi, perkuasi dan auskultasi. Organ – organ yang dilakukan pemeriksaan fisik antara lain pada kepala, mata, telingan dan hidung, mulut dan faring, dada dan paru-paru,jantung , payudara dan ketiak, perut, genetalia. Rektum dan anus, sistem muskuloskeletal, dan neurologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar